Skip to main content

BERITA TRENDING

Akhirnya Terungkap Sosok Yang Ambil CCTV Rumah Sambo

Ibu Siswi yang Dipaksa Berjilbab Akhirnya Buka Suara

Kabar terbaru terkait seorang Ibu dari siswi SMAN 1 Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akhirnya buka suara terkait peristiwa yang menimpa putrinya.

Dikabarkan bahwa perempuan bernama Herprastyanti Ayuningtyas itu menjelaskan kronologi bagaimana dia mengetahui bahwa anaknya telah dipaksa berjilbab oleh oknum guru di SMAN 1 Banguntapan.

Herprastyanti mengatakan mereka menyadari bahwa kasus anaknya saat ini telah menjadi sorotan publik.

"Saya seorang ibu yang sedih dengan trauma yang kini dihadapi putri saya. Dampak dari memperjuangkan hak dan prinsipnya," ujar dia, dalam keterangan yang diterima JPNN Jogja.

Dia bercerita bahwa putrinya merupakan seorang atlet sepatu roda yang kuat dan tidak lemah. Diterima di SMAN 1 Banguntapan melalui prosedur yang benar.

"Saya dan ayahnya bercerai, tetapi kami tetap bersama mengasuh anak kami," ujarnya.

Herprastyanti mengaku pertama kali mendengar kabar buruk ini pada Selasa (26/7) saat anaknya menelepon, tetapi tidak bersuara.

Setelah itu, putrinya mengirimkan pesan singkat, "Mama ak mau pulang, ak ga mau dsni."

"Ibu mana yang tidak sedih membaca pesan begitu? Ayahnya memberi tahu bahwa anak kami sudah satu jam lebih berada di kamar mandi sekolah," ucap dia.

Dia pun bergegas menjemput anaknya yang sudah dibawa ke ruang unit kesehatan sekolah (UKS).

Herprastyanti mengatakan saat itu kondisi putrinya dalam keadaan lemas dan menangis.

Sejak itulah putrinya secara perlahan bercerita bahwa telah dipaksa mengenakan jilbab oleh beberapa guru.

Herprastyanti mengatakan anaknya sudah menolak, tetapi pihak guru terus mempertanyakan mengapa menolak mengenakan jilbab.

"Dalam ruang Bimbingan Penyuluhan, seorang guru menaruh sepotong jilbab di kepala anak saya. Ini bukan tutorial jilbab karena anak saya tak pernah minta diberi tutorial. Ini adalah pemaksaan," tegasnya.

Herprastyanti menegaskan bahwa sebagai seorang ibu yang mengenakan jilbab, dia tidak pernah memaksakan putrinya untuk berjilbab.

Dia juga tidak terima dengan tudingan pihak sekolah yang menyebut anaknya histeris karena masalah keluarga.

Herprastyanti menyebut apa yang dialami anaknya bukan karena masalah keluarga, tetapi karena perundungan dan ancaman yang dialami di sekolah.

"Kepada guru-guru yang merundung dan mengancam anak saya, saya ingin bertanya, 'Punya masalah apa Anda di keluarga sampai anak saya jadi sasaran?' Bersediakah bila kalian saya tanya balik seperti ini?" ucap dia. (duniaoberita/JPNN)