Skip to main content

BERITA TRENDING

Akhirnya Terungkap Sosok Yang Ambil CCTV Rumah Sambo

Duet Gubernur Anies- Ketum Demokrat AHY, Surya Paloh Isyaratkan Hal Ini

Kabar terbaru terkait  Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh mengisyaratkan tak setuju jika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diduetkan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pafa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Dikabarkan bahwa hal itu disampaikan Paloh terutama usai ia menerima kunjungan AHY selaku Ketua Umum Partai Demokrat pada Kamis (23/6/2022) lalu di NasDem Tower. Paloh juga membantah ada pembicaraan soal duet Anies dengan AHY dalam pertemuan itu.

“Ndak ada. Subjek itu nggak terbahaskan. Artinya belum sampai pada tahapan itu. Saya harus katakan apa adanya,” kata Paloh dalam program The Politician CNN Indonesia TV, Senin (4/7/2022) malam.

Paloh tak berbicara spesifik soal peluang duet keduanya. Namun, ia menegaskan Nasdem adalah barisan yang siap menang dalam pemilu dan pilpres. Dia menyebut pihaknya akan berpikir ulang jika ada peluang kalah.

“Tidak kalah penting, kami maju cari upaya untuk memenangkan kompetisi. Kalau rasanya berat (Anies-AHY) untuk memenangkan kompetisi harus dipikir ulang,” katanya.

Paloh lebih lanjut memahami berkompetisi harus siap dua hal, yakni kalah dan menang. Namun, ia menegaskan partainya harus berada di barisan yang menang.

Bagi Nasdem, ucap Paloh, pertaruhan pada Pemilu 2024 adalah menang atau berada di barisan yang menang. Namun, jika pun tetap kalah, pihaknya harus menerima hal itu dan tetap menghormati pihak yang menang.

“Kami siap berkompetisi dengan konsekuensi dua hal. Kalah atau menang. Tapi masa kami cari kalah. Ngapain berkompetisi,” kata dia.

Paloh mengatakan, barisan menang adalah pihak yang mampu mengalahkan argumentasi Nasdem dengan tenang. Bukan dengan kebencian, melainkan dengan argumentasi, fakta dan data.

Menurut Paloh, Nasdem sudah memiliki rekam jejak dalam dua pemilu terakhir. Dia pun mengaku telah memiliki referensi sebagai modal untuk menghadapi pemilu dan Pilpres 2024.

Paloh menyebut rekam jejak tersebut meski tidak berbentuk tapi tetap terasa. Ia meyakini selagi sensitivitas itu masih dirasakan, hal itu menjadi modal untuk memenangkan kompetisi.

“Kami tidak bisa tangkap dia. Tapi terasa di tangan kami. Sepanjang sensitivitas itu masih ada pada kami, itu adalah modal yang besar dalam menentukan pilihan,” ucapnya. (Kronologi)