Skip to main content

BERITA TRENDING

Heboh! Digugat Cerai Nathalie Holscher, Sule Berikan Jawaban Begini

Juragan Sepatu Mojokerto Bunuh Diri, Sebelum Bunuh Diri Berpesan untuk Bayar Gaji Karyawan

Kabar terbaru berkaitan dengan warga Desa Gedeg, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto ditemukan tewas di pusara sang istri di pemakaman desa setempat. Korban, Andri Budi Santoso (46) yang merupakan juragan sepatu ini diduga bunuh diri dengan menenggak racun tikus dan serangga karena depresi jelang pernikahan.

Dikabarkan bahwa Andri Budi Santoso (46), juragan sepatu yang ditemukan bunuh diri di pusara sang istri meninggalkan pesan kepada anak pertamanya. Warga Desa Gedeg, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto berpesan agar membayar gaji karyawannya.

Anak pertama korban, Bima Prayuganing Santoso (18) mengaku, sekitar pukul 11.30 WIB, korban pamit ke calon istrinya, Fitri yakni seorang janda warga Dusun Losari, Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg. Korban pulang sekira pukul 14.30 WIB. Namun korban keluar lagi setelah berganti pakaian kaos warna oranye dan celana jeans warna cokelat.

“Tadi tidak pamit pergi ke mana, saya juga tidak tahu bawa apa saja tapi perasaan saya tidak enak sore tadi, badan lemas. Mau nikah, tanggal 3. Bingung cari utangan, uang diputar buat usaha. Tiap hari produksi sepatu, yang sana (calon istri) ngebet-ngebet,” ujarnya.

Bima menepis jika ada dari saudara sang ibu tidak merestui jika korban menikah lagi. Namun karena masalah ekonomi. Calon istri minta Rp17 juta untuk menggelar pesta pernikahan. Perasaan Bima yang tidak karuan sore tadi akhirnya terjawab. Ia mendapat kabar kematian bapaknya setelah magrib.

“Karyawan ada 15 orang, ada yang dibawa pulang. Produksi sepatu, biasanya kirim ke Semarang. Tidak ada merk, jurangannya yang kasih merk. Selesai produksi dikirim ke jurangannya yang ada di depan RSI Sakinah. Sudah saya kasih tahu (calon istri korban). Punya dua tempat produksi, satu di sini, satu di lokasi,” jelasnya.

Namun tempat usaha yang juga produk sepatu tersebut baru berdiri tapi beda juragan. Di tempat usaha baru dikelola korban dengan dua karyawan, sementara di Gedeg anak pertama korban yang diminta mengelola sembari belajar. Bima mengaku, sang ayah berubah sejak kenal dengan calon istrinya.

“Sejak kenal orang itu (calon istri korban). Belum lama kenalnya, Januari atau Maret tahun ini. Nikah nunggu selamatan setahun ibu, nikah bulan depan setelah Hari Raya Kurban. Tidak ada wasiat apa-apa, cuma sebelumnya bilang mau bayarin karyawan. Gitu, baru ingat itu tadi,” tegasnya.