Skip to main content

BERITA TRENDING

Heboh! Digugat Cerai Nathalie Holscher, Sule Berikan Jawaban Begini

Dirut Krakatau Steel Diusir

Kabar terbaru terkait Komisaris Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) Roy Maningkas tak terima Dirut Krakatau Steel Silmy Karim diusir dari rapat Komisi VII DPR saat pembahasan blast furnace.

Dikabarkan bahwa komisaris Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) Roy Maningkas menyinggung pimpinan rapat Komis VII DPR Bambang Haryadi (Sebelumnya tertulis Eddy Soeparno) tidak tahu terkait capaian Krakatau Steel beberapa tahun ini.

“Bambang Haryadi itu hanya tahu sedikit soal transformasi Krakatau Steel,” kata Roy kepada wartawan, Senin (14/2/2022).

“Apa perubahan dan pencapaian yang dicapai oleh manajemen Krakatau Steel tiga tahun belakangan, yang dari 8 tahunan rugi sekarang sudah 2 tahun terakhir profit (untung),” katanya lagi.

“Sebagai Anggota Dewan, harusnya bijak bicara, jangan asal bicara. Coba kalau Pak Bambang yang terhormat yang jalanin Krakatau Steel. Saya mau lihat bisa berhasil atau tidak?” lanjutnya.

Roy Maningkas lantas menyoroti sebutan maling teriak maling yang diungkap Bambang.

Dia menilai sebutan tanpa bukti itu mencemarkan nama baik Krakatau Steel.

“Pak Bambang juga menyebutkan maling teriak maling tanpa bukti juga, bukan hanya nggak etis, tapi juga melakukan pencemaran nama baik pada orang-orang yang sudah bekerja keras memperbaiki Krakatau Steel dan Alhamdulillah mulai kelihatan berhasil,” ucapnya.

Roy menilai tudingan Bambang soal maling teriak maling itu salah sasaran.

Dia mengatakan blast furnace itu ada sebelum manajemen Dirut Silmy. Roy lantas heran kenapa manajemen saat ini yang disudutkan.

“Pak Bambang ini harusnya bijak-bijak bicaranya sebagai politisi dan panutan rakyat. Sekali lagi, jangan sembarang bicara. Tahu nggak siapa dan kapan proyek blast furnace? Itu dimulai sekitar 2012-2013, jauh sebelum manajemen di bawah Pak Silmy masuk,” katanya.

“Pak Silmy masuk sudah jadi, justru itu yang saya dan komisaris minta jangan berproduksi. Justru manajemen sekarang cuci piring kok malah bilang maling teriak maling?” ucapnya.

“Sekadar informasi, proyek blast furnace ini dari yang awalnya anggaran cuma Rp 6 triliun, jadi lebih dari Rp 10 triliun itu sebelum manajemen sekarang memimpin,” katanya.

“Tapi saya kira mereka nggak cari kambing hitam, tetap lakukan banyak perubahan perusahaan, termasuk efisiensi yang melebihi 20-25 persen dan lakukan penjualan yang meningkat,” ujarnya.

“Ketika saya masuk jadi komisaris Krakatau Steel tahun 2015, Krakatau Steel itu ruginya kurang lebih Rp 3 triliun lebih, sekarang sudah 2 tahun berturut-turut profit, dan tahun 2021 mungkin kurang lebih Rp 1-1,5 triliun, kok bilang maling teriak maling,” lanjut Roy. (Source : Pojoksatu)