Skip to main content

Trending Topic

Brigjen Junior Tumilaar Tuding Jenderal Ini Jadi Pengkhianat Bangsa

Layani Ibu Kost Demi Tutup Uang Tagihan, Aku Pasrah! Terungkap Hal Ini

Namaku Rian. Saat ini, aku masih menjadi mahasiswa baru di salah satu Universitas negeri terbaik di Kota S.

Sebagai seroang mahasiswa rantau, aku cukup mudah kenal dengan masyarakat sekitar, terutama teman-teman satu indekos denganku.

Ya, aku memilih indekos karena biaya yang cukup terjangkau dan supaya mudah bergaul dengan banyak orang.

Namun, aku ternyata bernasib sial di indekos ini. Sebab, aku kerap mendapat perlakuan buruk dari pemiliknya, Bu Yani.

Ketika kenal kali pertama dengan Bu Yani, aku rasa beliau seorang yang cukup ramah dan mudah tersenyum.

"Jadi, saya boleh sewa kamar ini, ya, bu?" ujarku kala itu.

"Iya, tentu Mas Rian. Kalau bayar telat sekali pun, saya bisa maklum, kok," sahut Bu Yani.

Mendengar itu, aku sebenarnya tidak berharap untuk bayar telat karena tidak biasa punya utang.

Akan tetapi, dalam perjalanannya, aku sampai harus telat bayar selama 15 hari.

"Ini mau dibayar kapan, mas!" tanya Bu Yani.

"Iya bu. Maaf terlambat, saya belum mendapat kiriman karena di kampung belum panen," kata ku.

Maklum, aku sebenarnya berasal dari keluarga yang cukup, tetapi kondisi rumah memang sedang tidak baik.

"Kalau kayak gini terus, kamu harus keluar dari kosan ini, loh, mas," seru Bu Yani.

"Iya, bu. Lusa saya bayar," ujarku menenangkannya.

Setelah mendengar teguran itu, aku pasrah untuk berusaha tetap tinggal di sini.

'Lantas, aku harus ke mana?' Pertanyaan itu selalu terpikirkan olehku. Masalahnya, aku masih baru masuk semestet empat, yang mana dua tahun terakhir habis hanya untuk belajar.

Aku sampai lupa harus mencari tambahan uang untuk bayar sewa indekos.

Waktu penagihan uang sewa pun datang. Bu Yani masuk ke kamarku dengan wajah yang ingin aku segera pergi.

"Mana? Sudah ada uangnya? Kalau tidak, kamu pergi sekarang tanpa barang-barang yang ada. Jadi, ini saya sita agar kamu bisa melunasi utang," kata Bu Yani.

"Iya bu. Ini saya ada setengah dari harga sewa. Semoga ibu bisa terima dan mengizinkan saya tinggal beberapa waktu lagi sampai uang sewanya terkumpul," sahutku lirih.

"Saya pasrah saja bu. Ibu mau lakuin apa saja kepada saya, tetapi harapannya untuk tidak keluar sekarang, bu," pintaku.

"Yah, mau bagaimana lagi, ya. Kamu harus menuruti permintaan saya sampai uang sewanya dibayarkan," kata Bu Yani.

"Baik, bu. Saya akan turuti mau Ibu, gimana pun caranya," balasku.

Entah mengapa, saat bilang seperti itu, aku khawatir ada yang tidak beres akan terjadi.

Namun, aku telah berjanji dan tidak akan ingkar meski permintaan Bu Yani ada yang aneh.

"Kalau begitu, setelah pulang kuliah, kamu harus datang ke kamar saya, ya, mas," kata Bu Yani.

"Ada apa, ya, sampai harus begitu, bu?" kataku bingung.

"Sudah kamu tinggal datang saja. Katanya pasrah mau lakuin apa saja?" sahut Bu Yani.

Mendengar perintah itu, singkat cerita aku datang ke kamar Bu Yani. Ketika masuk kamar pun, aku tercengang melihat pemandangan di sana.

"Banyak sekali barang berantakan di sini," gumamku.

"Mas Rian sudah sampai. Ini tolong diberesin, ya, sekalian cucian piring dan baju juga belum," kata Bu Yani.

Ah, benar juga apa yang aku pikirkan terjadi. Aku dibuat tidak berdaya atas permintaan Ibu Kos yang rewel ini. (GenPi)


Comments