Skip to main content

BERITA TRENDING

Anwar Abbas Kritisi Izin Pengumpulan Uang ACT Dicabut, Ada Apa?

Terbongkar Keanehan Pesantren Milik Herry Wirawan, Ternyata.....

Kabar terbaru datang dari pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TPA) Garut menemukan sejumlah kejanggalan di Pesantren Manarul Huda Antapani yang dikelola Herry Wirawan alias HW.

Dikabarkan bahwa diketahui, Herry Wirawan merupakan pelaku pemerkosaan terhadap 12 santriwatinya hingga akhirnya melahirkan sebanyak 9 bayi.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TPA) Garut Diah Kurniasari Gunawan lantas membongkar satu per satu keanehan yang ada di pesantren tersebut.

Pertama, kata dia, santriwati yang menjadi korban pemerkosaan tersangka Herry ternyata diming-imingi biaya pesantren hingga sekolah gratis.

Karena tergiur dengan iming-iming tersebut, banyak santri yang akhirnya memilih menimba ilmu di pesantren milik Herry.

Menurut Diah, para korban pemerkosaan Herry kebanyakan berasal dari Garut, Jawa Barat. Mereka datang ke pesantren itu sejak 2016 atau saat masih duduk di bangku SMP.

"Mereka di sana karena gratis. Mereka banyak bertalian saudara dan tetangga juga," kata Diah dikutip dari Kompas.com pada Jumat (10/12/2021).

Kemudian, kejanggalan berikutnya yakni guru atau pengajar di pesantren tersebut yang hanya berjumlah satu orang yang tak lain adalah Herry Wirawan sendiri.

Jika pun ada guru lain yang datang, waktunya tidak tentu dan hanya bersifat guru panggilan, tidak seperti halnya sekolah atau pesantren pada umumnya.

"Sisanya (waktu), mereka masak sendiri, gantian memasak, tidak ada orang lain lagi yang masuk pesantren itu," ujar Diah.

Selanjutnya, Diah menemukan kejanggalin lain yaitu tidak ada ijazah bagi santri yang telah lulus sekolah.

Diah mengaku bingung pada pesantren tersebut karena ada korban yang disebut telah lulus SMP di pesantren itu, tapi ijazahnya tidak ada.

Itu sebabnya, P2TPA sempat kesulitan memfasilitasi para korban untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.

"Ijazahnya ini benar apa enggak, ternyata ada yang sekolah di sana dari SD, ijazah SD enggak ada, ijazah SMP enggak ada, jadi itu harus ikut persamaan," ujar Diah.

Terakhir, kejanggalan yang ia temui yakni orang tua santriwati diminta untuk membantu pembangunan pesantren.

Dari mulai menyumbang kayu hingga tenaga. Artinya, orang tua santriwati tersebut turut menjadi pekerja untuk membangun pesantren milik Herry.

Padahal, kata Diah, pelaku Herry menyebar proposal untuk mendapat bantuan hingga akhirnya bisa membangun pondok pesantren tersebut.

"Tapi mereka tidak tahu anaknya diperlakukan seperti itu oleh para pelaku," kata Diah. (Source : Kompas