Skip to main content

Trending Topic

Terbaru! Gunung Semeru Erupsi, Warga Panik

Tak Terima Luhut Dipanggil Opung, Nicho Silalahi Ungkap Alasan Mengejutkan

Kabar terbaru datang dari aktivis dan pegiat media sosial, Nicho Silalahi tidak terima Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan dipanggil dengan sebutan “Opung”.

Dikabarkan bahwa hal ini karena Nicho Silalahi menilai bahwa Luhut Binsar Pandjaitan bukanlah sosok yang pantas dihormati dan dimuliakan.

Ia menjelaskan bahwa bagi orang Batas, “opung” adalah panggilan untuk orang yang dihormati dan dimuliakan.

“Jangan panggil opung dia Uda. Bagi orang batak opung itu penyebutan bagi orang yang dihormati dan dimuliakan,” kata Nicho Silalahi melalui akun Twitter pribadinya pada Sabtu, 6 November 2021.

“Nah dia ga pantas untuk dihormati dan dimuliakan,” sambungnya.

Nicho Silalahi mengatakan hal ini sebagai respons terhadap politisi Partai Demokrat, Cipta Panca Laksana yang menyebut Luhut dengan sebutan “opung”.

“Kata opung, dia mendirikan perusahaan PCR itu ladang amal. Tiba-tiba opung bawa-bawa nama pak Amal, hahaha cc @Smsl_alghozali,” kata Panca.

Adapun Luhut Binsar Pandjaitan memang ramai dibicarakan belakangan ini karena disebut meraup untung melalu bisnis PCR milik PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI).

Dilansir dari Kompas, bisnis utama dari PT GSI memang menyediakan tes PCR dan swab antigen. Sebagai pemain besar, PT GSI bisa melakukan tes PCR sebanyak 5.000 tes per hari.

Luhut diketahui memiliki saham di PT GSI secara tak langsung melalui dua perusahaan tambang yang terafiliasi dengannya, yakni PT Toba Sejahtera dan PT Toba Bumi Energi.

Adapun Luhut telah membantah bahwa ia mengambil keuntungan pribadi dari bisnis yang dijalankan PT GSI.

“Hingga saat ini, tidak ada pembagian keuntungan baik dalam bentuk dividen maupun dalam bentuk lain kepada pemegang sahamnya,” katanya pada Jumat, 5 November 2021.

Source : Makkasar Terkini


Comments

  1. Secara pribadi mungkin, tetapi keperusaahaan miliknya? Sama saja, sebenarnya hal itu lbh berbahaya

    ReplyDelete

Post a Comment

Berilah komentar yang mendukung dan santun