Langsung ke konten utama

Trending Topic

Tokoh Agama Ditikam Anaknya Sendiri, Apa Yang Terjadi?

Susilo Bambang Yudhoyono Tak Akan Pernah Menjadi Presiden Jika...... ADA APA?

Kabar mengejutkan datang dari ahli hukum tata negara yang juga merupakan seorang pengacara senior Prof. Yusril Ihza Mahendra.

Dikabarkan bahwa Yusril mengajukan gugatan ke Mahkamah Agung terkait uji formil dan materiil Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Demokrat era Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). 

Berdasarkan hal tersebut banyak perdebatan diantara para pihak terkait gugatan tersebut sehingga menjadi sorotan publik. 

Sebagaimana dirangkum oleh Galamedianews, Politikus Demokrat, Andi Arief sebelumnya menyinggung Yusril Ihza Mahendra yang kini bakal menggugat AD-ART Partai Demokrat era Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Padahal, seperti diungkap Andi Arief dalam sebuah percakapan imajiner yang dibuatnya, Demokrat pernah mendukung dan dan memberikan rekomendasi kepada anak Yusril untuk ikut Pilkada.

Sedangkan rekomendasi itu diberikan berdasarkan hasil Kongres Partai Demokrat yang AD-ART-nya kini akan digugat.

Menanggapi hal tersebut, Yusril langsung memberikan tanggapan dengan menyinggung bahwa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak akan pernah menjadi Presiden ketika tak ada dukungan PBB.

Yusril mengatakan bahwa tanpa dukungan Demokrat sekalipun, anaknya tetap dapat mencalonkan diri sebagai Calon Bupati karena memiliki jumlah kursi yang cukup.

Namun hak itu tak berlaku kata Yusril, saat SBY mencalonkan Presiden.

"Beda halnya dengan dukungan saya terhadap Pak SBY ketika akan mencalonkan diri sebagai Capres pada 2004," kata Yusril dalam keterangan resminya Jumat, 24 September 2021.

"Tanpa saya tanda tangan pencalonan SBY, tidak akan pernah ada dalam sejarah RI, Presiden namanya SBY," tegasnya.

Andi Arief kemudian merespons pernyataan Yusril tersebut. Ia menyebut bahwa dukung mendung memang hal biasa dalam politik.

Namun kata Andi Arief, yang menjadi soal adalah perubahan sikap Yusril dalam menafsirkan AD-ART Demokrat.

"Poin saya adalah perubahan sikap menafsirkan AD-ART demokrat 2020. Pilkada 2020 anggap sah, tapi setelah bertemu KSP Moeldoko 2021 kenapa berubah malah menggugat," tandasnya


Komentar