Langsung ke konten utama

PNS Bisa Menjadi KadesTanpa Mundur, Ternyata Ini Syaratnya

Pemimpin Hamas Tinggal di Qatar Sedangkan Gaja Hancur Di Bom Israel, Terungkap yang Sebenarnya Terjadi

Kabar terbaru berkaitan dengan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh yang dikabarkan bahwa sudah lama tinggal di Qatar padahal Israel telah membom Gaza sampai hancur hancuran.

Diberitakan bahwa hamas merupakan faksi di Palestina yang berkuasa atas Jalur Gaza. Dikabarkan jika dilanda perang, wilayah kantong Palestina tersebut juga menderita kemiskinan parah akibat blokade Zionis Israel dan Mesir selama bertahun-tahun.

Sebagaimana dijelaskan dari SindoNews mengunkapkan bahwa kabarnya Haniyeh yang berada di Qatar berpidato bahwa Hamas tidak akan mundur dalam menghadapi pembalasan kuat militer Israel terhadap tembakan roket besar-besaran dari daerah Jalur Gaza. Bos Hamas itu bahkan memperingatkan bahwa pejuangnya masih belum menggunakan semua kekuatan yang mereka miliki.

"Perlawanan adalah jalan terpendek ke Yerusalem," katanya seperti dikutip Times of Israel, kemarin. Dia menambakan bahwa Palestina tidak akan menerima apa pun selain negara dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.

"Musuh Zionis menyerang Gaza, meratakan menara dan melakukan pembantaian, berpikir bahwa ini akan membuat kelompok militan mundur," ujarnya.

"Saat serangan Israel meningkat, perlawanan akan meningkatkan [kekuatannya] ke tingkat yang lebih tinggi," imbuh dia dalam pidatonya di hadapan ratusan orang di Qatar.

Haniyeh juga mengatakan bahwa meskipun Gaza telah dikepung selama hampir 15 tahun—untuk mencegah senjata mencapai kelompok Hamas—organisasinya tidak akan mundur.

Haniyeh meninggalkan Jalur Gaza pada Desember 2019. Seorang pejabat Hamas kala itu mengatakan, sang pemimpin tersebut akan berada di luar negeri untuk waktu yang lama.

"Keputusan itu terkait dengan pengaturan internal di Hamas dan komplikasi terkait perjalanan ke dan dari Jalur Gaza," kata seorang pejabat Hamas kala itu seperti dikutip Jerusalem Post.

Para pejabat Hamas membantah bahwa Mesir telah melarang Haniyeh kembali ke Jalur Gaza dan mengatakan pemimpin Hamas itu telah memutuskan untuk tidak kembali ke rumah pada tahap ini.

Seorang pejabat Hamas mengatakan Haniyeh telah memutuskan untuk menetap di Qatar pada fase ini, dan tidak diketahui apakah keluarganya akan bergabung dengannya.

Laporan tentang keputusan Haniyeh untuk tidak kembali ke Jalur Gaza diyakini terkait dengan ketidakpuasan Mesir atas kunjungannya ke Iran tahun lalu.

Foto : Pemimpin Hamas/tangkapan layar

Komentar