Langsung ke konten utama

Trending Topic

Massa Bakar Pos Anggota Raider 200 dan Batalyon Zipur 2, Apa Yang Terjadi

Analisis Emosi Jokowi Saat Pencabutan Lampiran Perpres Miras, Ada Temuan Penekanan, Ini Alasan Mengejutkannya

Diberitakan sebelumnya bahwa pemerintah telah memberikan izin terhadap investasi baru yaitu investasi miras di beberapa provinsi di Indonesia. 

Atas izin investasi baru tersebut menimbulkan beberapa tanggapan dan polemik di tengah-tengah masyarakat di mana ada pihak yang setuju dengan Lampiran Perpres tersebut tetapi ada juga beberapa pihak yang menyatakan bahwa pemberian investasi baru yaitu investasi miras tersebut akan berdampak negatif terhadap masa depan bangsa. 

Berdasarkan pertimbangan tersebut, melalui presiden republik Indonesia Joko Widodo mendengarkan beberapa pertimbangan dari  tokoh-tokoh dan agama yang lain, dan juga masukan-masukan dari provinsi dan daerah, akhirnya Memberikan suatu keputusan yaitu mencabut lampiran Perpres miras seperti dimaksudkan di dalam perdebatan yang telah beredar di masyarakat.

Dilansir dari detiknews menjelaskan bahwa Pakar gestur Handoko Gani memakai alat layered voice analysis (LVA) untuk menganalisis ucapan Jokowi tersebut.

"Perihal konsultasi dengan pihak-pihak terkait adalah benar," kata Handoko kepada wartawan, Selasa (2/3/2021).

Handoko Gani menjelaskan dirinya adalah satu-satunya instruktur ahli deteksi kebohongan dari dunia sipil yang memiliki gelar diploma di bidangnya serta terotorisasi dalam penggunaan alat layered voice analysis (LVA).

Dia juga mengungkap kondisi emosi Jokowi saat mengumumkan hal ini. Ada temuan penekanan dalam suara Jokowi.

"Soal kondisi emosi, berdasarkan pemeriksaan suara, ditemukan memang ada highly stressed hingga high tension bisa dilihat di bar 7-9 (tools dalam LVA) tersebut," tuturnya.

"Presiden memutuskan pencabutan untuk menghindari polemik/gegeran/kesalahpahaman yang bisa semakin menjadi. Sekalipun sebetulnya Presiden punya pemikiran lain. Dan betul telah konsultasi, secara khusus kepada ulama-ulama, MUI dan NU, yang sempat disebutkan dua kali sebetulnya (Nahdlatul Ulama dan NU)," ungkapnya.

Foto : Hasil Tangkapan Layar


Komentar

  1. Kami mengapresiasi kecepatan pengambilan keputusan Presiden Jokowi dan itulah jiwa ksatria.
    Jokowi telah mengalahkan kepentingan segelintir elit atas aspirasi mayoritas rakyatnya...

    BalasHapus
  2. Sngat mengutanatakn kondusifitas dan kesalahfahaman jdpolemik panjang walau sebenarnya ada pemikiran untuk menghentikan import miras yg nilai ya fantastis dg ijin invest dlm negeri. Krn kebutuhan minuman beralkohol tdk bisa distop sama sekali mk pemenuhannya pasti import pdhal harganya sangt waooo ..

    BalasHapus

Posting Komentar

Berilah komentar yang mendukung dan santun