Langsung ke konten utama

PNS Bisa Menjadi KadesTanpa Mundur, Ternyata Ini Syaratnya

WASPADA ! Prediksi Banjir Mengerikan, Ada Wilayah Paling Cepat Tenggelam yang Wajib Diketahui

Akhir akhir ini banjir terjadi dimana-mana sehingga masyarakat diharapkan untuk lebih waspada dan tentu harus bersiap terhadap segala sesuatu yang terjadi terutama terhadap hal-hal yang berkaitan dengan penyelamatan diri dan keluarga.

Berdasarkan prediksi yang telah di diberitakan bahwa adanya prediksi berkaitan dengan kebanjiran yang cukup mengerikan dan bahkan disebutkan ada wimayah yang akan cepat tenggelam.

Dilansir dari kompas dijelaskan dengan detail bahwa Jalur pantai utara (pantura) Pulau Jawa dikepung banjir setelah diguyur hujan dengan intensitas tinggi selama beberapa hari terakhir.

Salah satu penyebab terjadinya banjir di Wilayah Pantura Pulau Jawa ini karena adanya penurunan tanah.

Hal tersebut diakui peneliti geodesi dari Institut Teknologi Bandung, Heri Andreas. Dia mengaku tidak terkejut bila daerah-daerah di jalur pantura Pulau Jawa terendam banjir pada 2021 ini.

Sebab, Heri dan timnya telah menemukan adanya penurunan tanah (land subsidence) yang mengerikan di jalur pantura sejak beberapa tahun lalu.

"Jadi memang pantura ini tanahnya turun luar biasa. Nah konsekuensinya nanti akan lebih rendah dari laut atau lebih rendah dari sungai di beberapa bagiannya sehingga rawan banjir," ujar Heri kepada National Geographic Indonesia, Kamis (11/2/2021).

Menurut Heri, salah satu daerah di pantura yang patut menjadi sorotan karena penurunan tanahnya berlangsung semakin cepat adalah Semarang.

Sekitar sepuluh tahun lalu penurunan tanah di Semarang hanya 1-10 sentimeter per tahun. Namun pada 2015, 2016, sampai dengan hari ini, penurunan tanah di Semarang --terutama bagian utara dan timurnya seperti Kaligawe dan Raden Patah-- jadi makin cepat.

"Jadi sekarang tuh ada yang 19 senti per tahun. Yang tadinya 10 senti per tahun jadi 15 senti per tahun, jadi 18 senti per tahun."

Pekalongan Paling Cepat Tenggelam

Ke jalur pantura bagian Jawa Tengah, Heri menyoroti penurunan tanah di Pekalongan, selain Semarang yang sudah disinggung sebelumnya. Menurutnya, kondisi penurunan tanah di Pekalongan lebih luar biasa daripada Jakarta.

Sebagai perbandingan, perluasan banjir akibat penurunan tanah di Jakarta mencapai tiga kali lipat.

Rinciannya, kala tanpa ada penurunan tanah, banjir Jakarta hanya seluas 4 ribuan hektare, tapi sekarang karena ada faktor penurunan tanah sudah jadi seluas 12 ribu hektare.

Adapun di Pekalongan, perluasan banjir akibat penurunan tanah bisa mencapai lebih dari tiga kali lipat.

"Pekalongan itu menjadi salah satu kota paling cepat tenggelam di dunia. Ini prediksi saya. Sekarang ini sudah 35% area Kota Pekalongan terdampak banjir. Di 2030-2040 85% wilayah kotanya itu ada di bawah laut," paparnya.

Daerah-daerah di pantura yang kecepatan penurunan tanahnya masih relatif agak kecil adalah Cirebon, Tegal, Brebes, dan Pemalang, Penurunan tanah di sana relatif agak lambat mungkin dikarenakan jumlah penduduknya lebih sedikit dan manajemen airnya lebih bagus.

"Kalau Pekalongan itu kota dengan manajemen air paling buruk di Jawa. Karena 90% penyediaan air oleh pemerintah di sana itu menyedot air tanah lewat program PAMSIMAS (Program Nasional Penyediaan Air Minum)" ujar Heri.

Kemudian, di daerah pantura bagian timur, kecepatan penurunan tanah yang relatif cepat ditemukan di wilayah Surabaya.

Berdasarkan ringkasan pemetaan penurunan tanah oleh Heri dan timnya, kecepatan penurunan tanah yang paling mengerikan di jalur pantura adalah Jakarta yang bisa mencapai 20 sentimeter per tahun, lalu Pekalongan yang bisa mencapai 15 sentimeter per tahun, lalu Semarang dan Surabaya hingga 20 sentimeter per tahun.


Komentar